Akibat Tsunami Palu Donggala Memakan korban Sudah 400 Orang Lebih

Palu – Oase INews.com –  Gemuruh suara gelombang laut Tsunami dan gempa bumi berkuatan 7,7 skala richter yang terjadi di pantai Talise Donggala kota Palu sulteng yang menelan korban jiwa 400 orang, yang berhasil di evakuasi oleh tim BPBD.

Peristiwa  tersebut banyak menyisakan reruntuhan bangun rumah warga, kios -kios para pendangan di Sekitaran pantai, serta ruko-ruko bangunan di sekitar nya akibat gempa bumi dan gelombang air laut Pasang sampai ke daratan hingga menimbulkan ke gaduhan.

Suara gemuruh yang sangat menyeramkan kejadian tsunami di tahun 2018 ini telah menjadi tragedi yang sangat memalukan indonesia dimata umum.

Pascagempa magnitudo 7,7 mengguncang Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Jumat sore kemarin, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat telah terjadi 131 gempa susulan yang terjadi di Palu dan Donggala sepanjang Sabtu ini.

“Hingga pukul 15.00 WIB gempa susulan masih terjadi sebanyak 131. Lima gempa dirasakan,” kata Sutopo di kantor BNPB, Jakarta Timur, Sabtu (29/9/2018).

Dia mengungkapkan, sebanyak 24 kecamatan hingga kini masih merasakan adanya gempa susulan.

Di mana 13 kecamatan ada di Kabupaten Donggala, sedangkan 8 kecamatan di Kota Palu.

Dan sampai saat ini, sebanyak 2,4 juta masyarakat masih mengalami gempa susulan dan Terdampak tsunami.

“Terdampak ini bukan berarti rumahnya rusak, tapi ikut merasakan guncangan,” tambah Sutopo.

Sementara, untuk jumlah korban yang meninggal sampai saat ini belum ada penambahan. Data yang masuk terakhir masih tercatat 384 orang meninggal, 540 orang luka-luka, dan 29 orang masih dalam pencarian.

Adapun sebaran 384 orang meninggal paling banyak terdapat di ujung Teluk Palu.

“Sebagian besar disebabkan terjangan tsunami,” ujarnya.

Tim DVI Polri juga melakukan penambahan personel untuk mengidentifikasi jumlah korban meninggal.

Mereka pun belum mengetahui apakah ada warga negara asing yang menjadi korban.

Mereka tersebar di RS Wirabuana Palu sebanyak 10 orang, RS Masjid Raya sebanyak 50 orang, RS Bhayangkara sebanyak 161 orang.

Kemudian, di Desa Pantoloan Induk sebanyak 20 orang, Desa Kayumalue Pajeko sebanyak 2 orang dan RS Undala Mamboro Palu sebanyak 141 orang.

“Ini hanya tercatat di kota Palu,” kata Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Sabtu (29/9/2018).

Sementara sebanyak 29 orang dinyatakan hilang di Pantoloan Induk.

Di pantai akibat tsunami juga diduga cukup banyak korban meninggal dunia yang belum terdata.

“Memang tsunami menerjang Kota Palu dan Donggala dengan tinggi satu hingga tiga meter. Korban banyak karena masyarakat banyak melakukan aktivitas di pantai,” Sutopo menandaskan.

Gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Palu dan Donggala pada Jumat 28 September 2018 pukul 17.02 WIB.

Pusat gempa berkedalaman 10 kilometer itu berada pada 27 kilometer timur laut Donggala.

Sebelumnya, BNPB mengaku kesulitan mendapatkan data terkini korban bencana gempa dan tsunami di Donggala dan Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Hal itu lantaran jaringan komunikasi yang masih lumpuh di kawasan yang terkena bencana.

“Daerah Donggala dan Palu kita belum dapat data yang komprehensif. Listrik padam, komunikasi putus, menyebabkan data belum terupdate baik,” tutur Sutopo.

Saat ini ada empat daerah yang terdampak paling parah setelah gempa dan tsunami mengguncang Palu dan Donggala. Yakni Kabupaten Donggala, Kota palu, Kabupaten Parigi Moutong dan Mamuju Utara.

“Di empat daerah itu rencana pendirian posko BSMI,” ujar Ketua Umum Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Djazuli Ambar dalam keterangan persnya.

Sementara, BSMI regional Sulawesi, Maluku, Papua (Sulampapua) memberangkatkan delapan orang tim rescue ke wilayah terdampak gempa bumi di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat pada Sabtu (29/9/2018).

Djazuli menjelaskan, tim terdiri dari empat orang rescue, dua dokter, satu teknik dan dua relawan media serta data.

Sementara dari Jakarta, BSMI akan memberangkatkan satu orang dokter dan satu perawat beserta dengan bantuan logistik dan medis.

“Tim dari Jakarta akan berangkat bersama dengan TNI AU membawa logistik dan peralatan medis. Menurut informasi relawan BSMI Palu yang dibutuhkan segera tenaga medis yang cukup banyak dan pendirian rumah sakit lapangan,” papar Djazuli di Jakarta.

Djazuli juga menerangkan, BSMI regional Sulampapua sudah mengaktifkan Markas Komando Utama di Jl. Tamangapa raya 3, Makassar, Sulawesi Selatan.

“Tim dari Sulampapua menempuh jalur darat dari Makassar. Setelah bandara Palu dibuka, tim susulan akan diberangkatkan lewat udara,” papar Djazuli.

(luq-)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

nine + 5 =