Halal Bihalal Mahasiswa Papua Se-Jabodetabek, Sekaligus Diskusi Soal Radikalisme dan Intoleransi

TANGERANG, Oase INews.com – Radikalisme dan Intoleransi seperti dua mata uang yang tak bisa dipisahkan. Dalam negara yang menganut sistem Demokrasi, dua hal ini tidak boleh diterapkan, sebab jika diterapkan akan mewujudkan ke’chaos’an, serta dapat merusak tatanan berbangsa dan bernegara.

Dewasa ini, dalam praktek demokrasi kita, justru dua hal ini intens terjadi, baru-baru ini tidak sedikit persoalan kekerasan yang jelas-jelas merugikan kehiduapan bangsa dan negara kita. Tentunya ini bukan hanya tugas pemerintah, melainkan juga tugas kita semua sebagai bangsa.

hal tersebut, adalah sebagaian dari pembahasan yang dalam acara Halal Bihalal, sekaligus diskusi publik bersama paguyuban dan ikatan-ikatan mahasiswa dari berbagai Kabupaten/Kota di Provinsi Papua yang berada di beberapa perguruan tinggi se-Jabodetabek, Yang dihadiri sekitar 150 orang mahasiswa/i. Sabtu, (24/6/18), Pukul 13.00 Wib. Bertempat di Asrama Papua, Jl. Puri Intan II, Kel. Pisangan, Kec. Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan.

Dalam kesempatan itu, Ketua Umum Mahasiswi Jayawijaya Papua, Apolo Hiluka pun menjelasan, terkait radikalisme dan intolerasi yang bisa saja menimbulkan konflik horizontal di tanah Papua, bukan serta merta asli keingin masyarakat di sana, namun terkadang adanya imbas dari konstalasi politik yang ada di pusat.

“Saya rasa masyarakat papua sendiri orangnya baik-baik, tapi terkadang suka terbawa oleh suasana yang ada dipusat, dan untuk toleransi agamanya pun kami orang papua sangat toleran, karen saling menghargai satu sama lain. Dan tidaklah benar bahwa masyarakat papua dianggap memiliki pemahaman radikal dan intoleran, sebab kami selalu di ajarkan untuk berbuat kebaikan kepada sesama, oleh orang tua disana,” ujarnya.

Lebih lanjut, Apolo Hiluka mengatakan. masyarakat papua juga menghargai tentang keberagaman budaya kerena mereka pun menilai itu sebagai bentuk semangat bhineka tunggal ika.

“Di papua sendiri banyak orang dari pulau jawa, sumatera, kalimantan, yang notabenenya bukan orang asli papua. Namun kami sangat terbuaka di sana, terlebih dengan budayanya karena kami menganggap itu bagian dari kebudayaan NKRI,” tukasnya.

Adapun Fajar Cuan, sang Koordinator Halal Bihalal mahasiswa Papua se-Jabodetabek menerangkan. Selain halal bihalal, bahwa isu radikalisme dan intoleransi sengaja di kemas sebagai diskusi dalam rangkaian acara itu.

“Acara halal bihalal ini, tidak hanya bagi mahasiswa muslim papua yang berada di jabodetabek yang melayakan lebaran, namun juga bagi seluruh mahasiswa papua yang beragama lain, kerena acara ini sekaligus membuka forum diskusi terkait permasalahan yang ada di papua saat ini, terutama soal radikalisme dan intoleransi,” katanya.

Masih menurutnya, terkait kultur dan keberagaman budaya. Juga antara umat muslim dan umat kristiani di tanah papua, sangatlah harmonis dan tidak terbersit dalam benak masyarakat papua sendiri untuk menimbulkan kekacauan yang di akibatkan oleh perbedaan budaya maupun agama tersebut.

“Masyarakat di sana (papua), sejati dapat saling mengahargai segala macam bentuk perbedaan budaya dan agama, tidak intoleran. Apalagi radikal, namun presepsi masayarakat yang tidak mengenal masyarakat papua secara keselurahan menganggap masyarakatnya masih radikal dan intoleran, maka itu dengan adanya diskusi ini diharap masyarakat umum dapat paham dan menyadari bahwa masyarakat papua tidak seperti itu,” tutup Fajar.

(Kosasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 × 2 =