Selamat Jalan Sang Jurnalis

Selamat jalan sang Jurnalis. Bangsa ini telah lama kehilangan jati diri. Dan kau telah membuat langkah awal yang fenomenal.

TANGERANG, Oase INews.com- Rustam Efendy, sang Jurnalis yang kini telah pergi selama-lamanya. Pergi di saat kita semua sedang sayang-sayangnya. Barangkali Tuhan jauh lebih sayang. Karena itu dipanggil-Nya sang Jurnalis saat berada ditengah melandanya musibah Dunia Penyakit Pandemi Covid Corona 19 ini. Dimana saat ia baru saja menyelesaikan tugas Jurnalinya dalam liputan PPDB Tahun 2020, mengembalikan kebanggaan dan kecintaan terhadap khazanah dunia wartawan.

Barangkali pula Tuhan tak ingin sang Jurnalis jatuh atau salah jalan. Sebagaimana banyak para awak media yang tak kuat menjalani perubahan nasib yang teramat drastis. Karena itu Dia rengkuh sang jurnalis ini dengan penuh kasih. Yang tubuhnya mulai lelah seiring usia yang menua di tengah aktifitasnya yang sangat padat.

Didekap-Nya anak manusia bernama asal Rustam Efendy, yang tetap sederhana, humble, ramah dan punya kepedulian sosial yang tinggi. Dan tak berubah sedikitpun oleh kemampuannya yang sedang digenggamnya.

Begitulah kiranya hidup. Hanya sekedar mampir ngombe. Hanya soal waktu, semua akan mengalami fase kembali. Dari zero kembali ke zero. Yang dicipta kembali ke Sang Pencipta. Semoga Rustam Efendy menemukan kedamaian abadi. Di alam yang tak ada lagi patah hati, kecewa dan kehilangan.

 

Kiranya tugasmu sudah selesai, sang Jurnalis. Telah kau tulis dunia yang terluka. Meski sebenarnya kami ingin lebih lama engkau menulis negeri ini. Menyatukan yang terbelah, mengobati patah hati dengan menulis dan mengoreksi.

Karya-karyamu telah bersemayam dan membuat tergugahnya hati-hati manusia yang tersakiti, diabaikan dan dibuat patah hati oleh kegelapan dan ketidakadilan zaman kiwari. Kerja kerasmu telah menggugah kesadaran, mengikis rendah diri dalam pergaulan antar bangsa di era yang semakin terbuka.

Lihatlah anak-anak milenial sekarang. Mereka tak lagi malu. Bahkan mulai menulis berita yang tak berdasar narasumbernya dan tak diperhitungkan. Walau sebagian tak tahu artikulasinya, mereka tetap menikmati tulisannya.

Mereka seperti anak-anak yang mendapatkan kembali mainannya yang hilang. Mereka terbangun dari mimpi menjadi orang lain. Mereka seolah membaca Layang Kangen sang Jurnalis lalu terbersit keinginan pulang setelah menelusuri perjalanan sepanjang jalan hidup ini. Mereka mulai merasakan sejuknya Banyu Langit di tanah sendiri. (Fatah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fourteen − thirteen =