Kenapa Kita Sering Mengantuk pada Siang Hari

Tangerang, Oase INews.com- Merujuk pada siklus biologis tubuh atau biasa disebut dengan siklus sirkadian (Circadian cycle), tubuh manusia tersusun dari ritme yang sudah dirancang berdasarkan algoritma yang sempurna oleh Yang Maha Kuasa. Setiap jam bergerak, sistem organ tubuh bekerja sesuai siklusnya. Termasuk pada saat siang atau malam, organ dan enjim apa saja yang bekerja efektif. Malam hari pada dasarnya adalah waktu untuk istirahat (tidur), karena berpengaruh terhadap enzim yang berdampak pada sistem kekebalan tubuh juga. Sementara siang hari idealnya waktu yang tepat bagi manusia untuk beraktivitas melakukan pekerjaan sesuai dengan bidangnya masing – masing. Namun dalam beberapa kasus ada juga orang yang malam tidur, tapi pagi atau siangnya juga masih mengantuk juga. Mata rasanya berat dan hawanya seperti kurang semangat.

Untuk mengetahui lebih lanjut soal ini, Pemerhati Siklus Sirkadian Dede Farhan Aulawi yang ditemui di Jakarta, Selasa (14/1) mengatakan bahwa pemenuhan waktu bagi tubuh untuk beristirahat itu sangat penting sekali, karena jika hak tubuh untuk beristirahat tidak terpenuhi maka bisa berakibat cukup fatal. Setiap organ tubuh memiliki jam biologisnya masing – masing. Jika jam biologis ini terganggu maka sistem kerja organ tidak berfungsi maksimal. Beberapa kasus kecelakaan kerja juga diantaranya banyak terjadi karena kurangnya pemenuhan waktu untuk istirahat. Ujar Dede.

Selanjutnya Dede juga menambahkan, bahwa meskipun orang tahu siang hari pada dasarnya untuk beraktivitas atau kerja, namun juga tidak sedikit orang yang mengantuk di jam kerja atau di jam belajar. Coba saja tanyakan kepada mereka yang ikut rapat, pelatihan atau belajar di siang hari, umumnya tidak sedikit yang merasakan ngantuk luar biasa. Jangankan peserta rapat atau siswa, bahkan pimpinan rapat atau pengajarnya pun sebenarnya merasa ngantuk juga. Permasalahannya adalah bahwa mengantuk di siang hari tentu menyebabkan kerugian banyak hal, misalnya produktivitas kerja atau produktivitas belajar menjadi menurut. Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu diketahui menyangkut masalah manajemen tidur untuk meminimalisir tingkat ngantuk di siang hari.

“ Ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap rasa timbulnya rasa kantuk, yaitu kurang tidur, kelelahan, efek samping obat yang diminum atau lagi kurang sehat. Idealnya waktu tidur yang dibutuhkan orang dewasa itu sekitar 8 jam sehari. Namun faktanya karena alasan satu atau dua hal, jam tidur malamnya berkurang sehingga siang harinya mengantuk “, ujar Dede.

Rasa ngantuk bisa juga disebabkan karena lagi kurang sehat atau kondisi medis tertentu, misalnya gangguan tidur, seperti narkolepsi, sleep apnea, serta insomnia dan hipersomnia. Bisa juga karena penyakit diabetes, terkait kelainan hormon, misalnya hipotiroidisme. Gangguan elektrolit, seperti kekurangan atau kelebihan natrium, dan kelebihan kalsium. Sindrom kelelahan kronis, seperti Jet lag. Bisa juga karena terkait masalah kejiwaan seperti gangguan cemas, stres berat, depresi, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD). Sementara itu yang terkait dengan efek samping obat, yaitu ketika orang sedang menggunakan obat – obat, seperti obat tidur, obat penenang, dan obat antihistamin.

“ Rasa ngantuk yang timbul di siang hari itu tentu sangat tidak baik bagi kita maupun orang lain. Di samping produktivitas menurun, juga tentu akan berhubungan dengan keselamatan. Misalnya jika kita mengendarai mobil sambil mengantuk, maka tentu akan sangat berbahaya. Adapun upaya – upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasinya adalah menjaga pola tidur teratur, mengkonsumsi makanan bernutrisi seimbang, melakukan olahraga yang teratur, hindari kebiasaan merokok / minuman beralkohol, lakukan relaksasi untuk mengurangi stres, ciptakan suasana yang nyaman untuk tidur, dan juga upayakan untuk menghindari kebiasaan membaca, bermain gadget, atau bekerja di kamar tidur. Itulah kurang lebih cara sederhana untuk mengurangi rasa ngantuk di siang hari. Jika cara itu sudah dilakukan tetapi masih mengantuk, maka sebaiknya segera hubungi dokter “, jelas Dede menutup perbincangan. (Fatah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *