Apakah Benar Peristiwa Masuknya Kedalam Kabah Pertanda Allah Merestui Jokowi Menjabat Kembali ?

Jokowi Dipersilahkan Keluarga Kerajaan Arab Saudi Untuk Masuk Kedalam Kabah

Jakarta – Oase INews.com– Belum lama ini media sosial dan media Pers di Indonesia sedang heboh dan marak pemberitaan tentang Jokowi diundang dan dipersilahkan memasuki Kabah di Mekah sana.

Tiba tiba saja Presiden Indonesia yang berperawakan kurus satu ini yang memulai karirnya sebagai tukang kayu diundang oleh pihak keluarga Kerajaan Arab Saudi sana untuk masuk kedalam tempat yang paling suci dan sakral bagi umat Muslim.

Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Iriana Jokowi diberi kesempatan masuk ke dalam Kakbah di Masjidil Haram saat menunaikan ibadah umrah di Tanah Suci, Senin (15/4/2019).

Dua putra Jokowi, yakni Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep, ikut dalam ibadah tersebut.

“Pada kesempatan itu, Presiden, Ibu Iriana dan rombongan terbatas berkesempatan masuk ke dalam Kakbah,” demikian informasi yang diterima dari Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin.

Jelas memang sebagaimana yang kita ketahui pada umumnya, tidak sembarang manusia yang dapat masuk kedalam Kabah.

Konon hanya manusia pilihan allah saja yang diperkenankan masuk kedalam Kabah yang sangat suci bagi seluruh umat Muslim dibelahan Planet Bumi ini.

Perbandingan ratio berapa jumblah manusia yang pernah masuk ke dalam kabah tidak ada hitungan rekam jejak yang pasti, tetapi semua sepakat bahwa yang dapat memasuki dalam bangun suci tersebut hanyalah manusia yang terpilih saja, baik atau benarnya berita ini dan suka atau tidak sukanya dengan berita manusia memasuki bangunan Kabah ini tapi yang terpenting adalah faktanya: “Memang hanya sedikit manusia saja yang dapat memasuki ruang suci tersebut.”

Tak Sembarangan Orang Bisa Masuk ke Dalam Kabah yang menjadi ‘titik temu’ seluruh umat Islam dari seluruh penjuru dunia yang mana Mereka berbondong-bondong datang ke Mekkah untuk menunaikan rukun Islam kelima, haji. Di samping ibadah umrah.

Kabah juga memiliki pintu, kunci dan gembok, talang, dinding, dan lainnya, setiap saat Kabah ditutup dan dikunci. Tidak sembarang orang bisa masuk Kabah.

secara manusiawi hanya orang-orang tertentu saja lah -yang diizinkan Raja Arab Saudi sebagai Pelayan Mekkah-Madinah- yang diperbolehkan masuk ke Kabah.

Menerima Wahyu 

Beda lagi pendapat dari sebagian orang yang mendalami ilmu Falak atau ilmu Tauhid ataupun ilmu Islam beranggapan bilamana seseorang memasuki ke dalam Kabah tersebut bukan berdasarkan kemauannya sendiri, melainkan atas panggilan Allah sendiri.

Ada lagi pepatah kolot di Nusantara yang beranggapan bilamana seseorang dapat masuk kedalam kabah hanya kalau wahyu nya ada, karena mereka percaya tempat suci itu identik dengan pengalaman rohani bagi para orang benar dalam menerima Wahyu dari Allah SWA.

Banyak yang datang tapi sedikit  yang diterima sebagai tamu Allah untuk masuk kedalam Kabah.

Jadi kaum tersebut(red-para panganut ajaran Tauhid) mempercayai kalaupun niat manusia berkeinginan menggebunya untuk memasuki kabah, tapi kalau belum dapat wahyu dari allah tetap saja muskil dapat memasuki tempat suci tersebut.

Siapa yang ditugaskan untuk membawa dan menyimpan kunci pintu Kabah?

Dilansir al-arabiya, selama lebih dari 16 abad -bahkan sebelum Islam datang, anak cucu Qusai bin Kilab bin Murah merupakan orang yang ditugaskan untuk merawat Kabah, termasuk yang menyimpan kuncinya.

Memang, pada saat itu Qusai menduduki jabatan al-Sadanah, yaitu pihak yang bertanggung jawab atas pakaian dan kunci Kabah.

Qusai menyerahkan kunci Kabah kepada anak pertamanya, Abdu al-Dar. Lalu, Abdul al-Dar menyerahkan kunci Kabah kepada anak pertamanya.

Dan begitu pun cucu-cucunya, selalu menyerahkan kunci Kabah kepada anak pertamanya.

Pada zaman Rasulullah SAW, yang bertugas merawat Kabah dan memegang kuncinya adalah Utsman bin Talhah.

Pada saat peristiwa Penaklukkan Mekkah (Fathu Makkah), kunci Kabah diambil paksa Ali bin Abi Thalib dari tangan Utsman bin Talhah untuk membuka Kabah.

Segera pada saat itu, Abbas bin Abdul Muthalib meminta kepada Rasulullah SAW agar kunci Kabah dijaga keluarganya.

Namun, Rasulullah SAW tidak mengabulkannya. Bahkan, Rasulullah SAW mengembalikan kunci itu kepada Utsman bin Talhah.

Ini dilakukan Rasulullah SAW setelah menerima wahyu Surat an-Nisa ayat 58.

Lalu, Utsman bin Talhah mewariskan kunci Kabah itu kepada saudaranya, Syaibah. Hingga hari ini, kunci Kabah dipegang oleh anak cucu keturunan dari Bani Syaibah demikianlah sekelumit tentang cerita penyimpan kunci kabah yang fenomanal itu.

Kembali ketanah air kita di Indonesia, yang pada saat ini sedang mengadakan Pesta Demokrasi Pemilihan Presiden yang akan datang periode 2019 – 2024, berita masuknya Jokowi ke dalam kabah mempunyai makna dan arti tersendiri.

Benarkah Jokowi adalah Presiden yang dipilih Allah untuk menjabat negeri ini satu kali lagi karena peristiwa diundangnya Jokowi yang dulunya berprofesi sebagi tukang mebel untuk memasuki dalam bangunan kabah, yang konon tempat allah memanggil hambanya untuk menyatakan wahyunya bagi umat Muslim ?

Saya rasa pertanyaan ini penulis serahkan kembali jawabannya kepada para pembaca yang budiman….

Tapi yang pasti, orang dapat memasuki bangun Kabah tersebut sekali lagi dapat dipastikan Bukanlah manusia sembarangan, hanya manusia yang berhati bersih dan mendapat wahyu saja yang dapat memasukinya…

Silahkan ditelaah kembali makna arti tulisan ini untuk para pembaca renungkan secara pribadi dan mendalam…

wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Penulis : Lucky  Richter (Ketua DPD PJI DKI Jakarta)

Pendiri Suara Jatim Group

Pendiri Lembaga Insan Budaya Bumi Pertiwi

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

14 + eleven =